Apa itu asma?
Penyakit asma berasal dari kata “asthma” yang diambil dari
bahasa Yunani yang berarti “sukar bernapas”. Asma merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh adanya peningkatan respon dari saluran pernapasan terhadap berbagai
macam rangsangan yang ditandai
dengan adanya penyempitan saluran pernapasan. Kondisi ini sering disertai dengan adanya lendir yang berlebihan dari kelenjar-kelenjar yang terdapat pada saluran pernapasan, sehingga dapat menyebabkan gejala batuk, sesak dan mengi. Asma merupakan penyakit
kompleks dengan faktor genetik dan faktor lingkungan yang ikut berperan di dalam menyebabkan terjadinya asma.
Gejala asma seperti batuk, sesak napas dapat disebabkan karena faktor-faktor yang
tidak spesifik seperti udara dingin, polusi, perubahan tekanan udara, faktor psikis dan kelelahan. Meskipun begitu sebab utama terjadinya asma adalah menyempitnya saluran napas,pembangkakan saluran napas dan berlebihnya lendir.
Siapa saja yang bisa terserang asma?
Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada dewasa dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50% (4) . Prevalensi asma di Jepang dilaporkan meningkat 3 kali dibanding tahun 1960 yaitu dari 1,2% menjadi 3,14%, lebih banyak pada usia muda.
Menurut WHO, sebanyak 100 hingga 150 juta penduduk dunia adalah penyandang Asma. Jumlah ini terus bertambah
sebanyak 180.000 orang setiap
tahunnya. Penyakit asma paling
banyak terjadi pada anak dan berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Alergi dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Disamping itu banyak permasalahan kesehatan lain yang menyertai berupa
gangguan organ tubuh lain, gangguan perilaku dan permasalahan kesehatan lainnya. Penyakit ini merupakan penyakit keturunan. Bila salah satu atau kedua orang tua,kakek atau nenek anak menderita penyakit asma maka bisa diturunkan ke anak. Penderita asma, belum tentu anaknya juga terkena asma. Jika anaknya dititipkan kepada orang lain yang lingkungannya berbeda, maka
anaknya bisa jadi tidak terkena asma karena lingkungan yang berbeda. Asma, dapat sembuh
secara total ? Penyakit asma
merupakan jenis penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total dengan obat-obatan yang ada pada saat ini, yang hanya berfungsi menghilangkan gejala. Namun,dengan mengontrol penyakit asma,penderita penyakit asma bisa bebasdari gejala penyakit asma yang mengganggu sehingga dapat
menjalani aktivitas hidup sehari- hari. Mengingat banyaknya faktor risiko yang berperan, maka prioritas pengobatan penyakit asma sejauh ini
ditujukan untuk mengontrol gejala.Kontrol yang baik
ini diharapkan dapat mencegah terjadinya eksaserbasi (kumatnya gejala penyakit asma), menormalkan fungsi paru, memperoleh aktivitas sosial yang baik dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Perlukah antibiotik?
Selama ini ada anggapan salah bahwa asma disebut juga bronkhitis, maka pengobatan utamnya adalah dengan antibiotik, padahal asma tidak butuh antibiotik.
Antibiotik hanya baik untuk membasmi bakteri pada bronkhitis saja, tetapi tidak ada manfaatnya terhadap asma.
Hati- hati memberikan antibiotik pada anak-anak. Penelitian
University of Manitoba di Kanada, membuktikan pemberian antibiotik pada anak- anak
berusia di bawah satu tahun justru memperbesar kemungkinan resiko asma. Risiko ini semakin tinggi bagi anak kecil yang mengkonsumsi berbagai jenis antibiotik yang spektrum luas. Jenis antibiotik spektrum luas ini akan membunuh hampir semua jenis bakteri, baik bakteri jahat maupun yang dibutuhkan tubuh. Mungkin meningkatnya risiko asma disebabkan antibiotik membunuh bakteri-bakteri yang dibutuhkan tubuh untuk membantu pembentukan sistem kekebalan. Dampak negatif dari antibiotik juga merusak pencernaan,menyebabkan sembelit dan mengakibatkan menurunnya imunitas tubuh serta tingginya toxid tubuh.
Dengan detoxifikasi menggunakan herbal terbukti mampu meningkatkan imunitas tubuh sehingga tubuh dapat mengobati sendiri penyakit tanpa harus dibantu dengan antibiotik. Antibiotik diperlukan ketika terjadi daerah luka terbuka yang luas untuk menghindari infeksi. Tetapi penyakit-penyakit seperti flu dan radang tenggorokan sebaiknya tidak mengandalkan antibiotik Bagaimana penatalaksanaan terapinya ? Penatalaksanaan penyakit asma harus menyeluruh yang meliputi tujuan terapi, sasaran terapi dan strategi terapi baik secara non farmakologi maupun farmakolgi.
A.Tujuan Terapi:
meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar penderita asma dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari- hari. Selain itu juga,dilakukan untuk
menghilangkan dan mengendalikan gejala asma, mencegah eksaserbasi akut, meningkatkan dan mempertahankan fungsi paru seoptimal mungkin, menghindari efek samping obat, mencegah terjadi keterbatasan aliran udara irreversibel serta mencegah kematian karena asma.
B. Sasaran Terapi:
meliputi gejala asma, bronkokonstriksi, peradangan
saluran napas, obstruksi saluran napas oleh mukus serta frekuensi dan keparahannya.
C. Strategi Terapi :
Terapi Non Farmakologis : Edukasi pasien dan menghindari penyebab asma merupakan manajemen strategi asma untuk setiap pasien. Edukasi pasien merupakan komponen penting
dalam strategi terapi asma. Kunci topik edukasi meliputi:
a.pengetahuan dasar tentang asma (termasuk mengenali simptom dan tindakan yang dilakukan
jika simptom berkembang),
b.aturan pengobatan,
c.cara penggunaan alat inhalasi yang tepat,
d.saran untuk menghindari alergen,
e.kegunaan dari pengobatan sendiri,
penting juga untuk melibatkan keluarga pasiendalam edukasi ini karena keluarga pasien
juga ikut berperan serta dalam proses terapi pasien tersebut.
Penyakit asma hingga saat ini belum dapat disembuhkan secara total. Terapi yang dapat dilakukan adalah mencegah
terjadinya serangan.
Kalaupun terjadi serangan diupayakan serangan tidak berat, berlangsung singkat, dan mengobati saat terjadi serangan. Beberapa terapi dapat
dilaksanakan untuk mencegah
terjadinya serangan asma. Salah satu tindakan pencegahan asma dapat dilakukan dengan atau tanpa obat.
Pencegahan tanpa pemakaian obat ialah menghindari faktor-faktor yang dapat
menimbulkan serangan asma, antara lain:
>> faktor iritan (debu, asap rokok,gas, dan zat-zat kimia),
>> perubahan suhu yang tiba- tiba,
>> kelelahan fisik berlebihan,
>> emosi yang berlebihan,
>> zat alergen(seperti bulu binatang, tepung sari,makanan tertentu terutama pada penderita asma alergi),
>> dan infeksi saluran pernapasan bagian atas.
Tindakan tanpa obat ini tidak
selamanya membawa hasil karena
berbagai keadaan di atas kadang sulit dihindari. Selain itu, faktor pencetus serangan kadang terdiri dari berbagai faktor bukan hanya satu faktor saja.
Terapi Farmakologis : Secara garis besar, terapi yang digunakan untuk mengobati asma dibedakan menjadi 2
golongan, yaitu :
a. Reliever :
Obat golongan ini efektif untuk meringankan bronkokonstriksi akut dan hanya untuk mengobati asma akut. Obat ini tidak memiliki efek dalam mencegah serangan akut.
Pengobatan ini hanya digunakan saat terjadi serangan asma, dan tidak dapat digunakan secara terus menerus. Obat golongan ini terdiri dari inhalasi agonis b2 kerja cepat (salbutamol, terbutalin,fenoterol, reproterol dan pirbuterol),antikolinergik (ipratropium bromide dan tiotropium bromide), dan teofilin
kerja singkat.
b. Controller :
Obat golongan ini mengurangi peradangan bronkhus
dan memberikan kontrol yang
panjang terhadap asma dengan
menurunkan frekuensi kekambuhan.
Obat golongan ini meliputi: glukokortikosteroid (budesonid dan flutikason), antileukotrien
(montelukast, pranlukast dan
zafirlukast), agonis b2 kerja lama
(salmeterol dan formoterol), dan
kromolin.
Adakah kiat-kiat untuk mengontrol penyakit asma?
Kiat untuk mengontrol asma dimana asma bukannya sembuh tapi terkontrol yaitu:
«»Kenali asma anda tersebut (jenis yang mana, ringan atau berat)
«»Kenali penyebabnya, jika disebabkan emosi maka atasi emosi tersebut, jika virus
influenza maka perlu divaksinasi, jika obat maka hindari obat tersebut, jika makanan maka hindari makanan tersebut, jika debu rumah maka hindari debu
rumah.
«»Kenali obat-obatan yang dipakai secara benar yang dianjurkan oleh dokter secara benar.
«»Pastikan pemakaian obat benar dan dosis juga tepat.
«»Kontrol ke dokter jangan hanya pada waktu terjadi serangan asma saja(sesak napas). «»Pasien harus diingatkan untuk selalu membawa obat asma kemanapun dia pergi, menyimpan obat-obatnya dengan baik, serta mengecek tanggal kadaluarsa obat tersebut.
Narasumber :
Anonim, 1998, Buku Saku Kedokteran Dorland edisi 25, Penerbit ECG, Jakarta.
Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2006, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Volume 41,Penerbit Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta.
Mangunnegoro, 2006, ASMA: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Di Indonesia, 28-56, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta.
Williams M.D., 2002, Asthma, Handbook of Nonprescription Drugs, 14th Edition, 291-294, APhA, New York.